Sistem Layanan Kepabeanan Customs Excise Integrated System and Aoutomation (CEISA) mengalami gangguan sejak Kamis lalu. Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto. “Betul dan sejak minggu lalu, “katanya kepada detikcom, Rabu 14/07/2021. Dia mengatakan, dengan sistem yang down tersebut maka barang yang ada di pelabuhan tidak bisa di proses.
Sudah lebih dari sepekan pelaku usaha ekspor-impor mengeluhkan gangguan yang terjadi pada sistem layanan kepabeanan CEISA. Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia. Subandi, berujar gangguan pada sistem milik Direktorat Jendral Bea dan Cukai Kementerian Keuangan ini membuat arus barang tersendat di berbagai pelabuhan.
Dampaknya luar biasa terhadap ketersediaan pasokan bahan baku, barang modal, dan barang jadi. Selain itu, gangguan CEISA menimbulkan biaya yang sangat tinggi, kata Subandi. Bahkan ia memperkirakan efeknya masih terasa setelah sistem membaik. Pelaku usaha harus meronggoh kocek lebih dalam untuk membayar biaya tambahan akibat penumpukan kontainer, seperti biaya penyimpanan di pelabuhan yang terkena biaya progresif.
Kemudian Subandi dan kawan-kawan juga harus membayar biaya pemindahan lokasi serta denda demurrage (batas waktu pemakaian peti kemas) yang dikenakan oleh perusahaan pelayaran karena terlambat mengembalikan peti kemas kosong.
Ketua umum DPP Indonesian National Shipowner’s Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan, kegiatan pelayaran yang melakukan ekspor impor akan terhambat jika gangguan sistem layanan ini masih terus berlanjut. “Utamanya ini berdampak pada performance kapal, karena operasional kapal menjadi bertambah juga pada akhirnya, Kata Carmelita dalam keterangan tertulisnya, Jumat 16/07/2021. Akibat gangguan sistem tersebut, layanan dokumen ekspor, impor, manifest dan portal pengguna jasa terkendala.
Mulanya, gangguan sistem IT pada CEISA berdampak pada kegiatan Forwarding. Namun, karena tidak segera diatasi gangguan ini juga berdampak pada pelayaran kapal, khususnya bagi pelayaran yang melakukan kegiatan ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, gangguan ini juga berdampak pada waktu clearance container menjadi lambat. Sehingga akan berdampak pada waktu tunggu kapal di Pelabuhan.
