dikutip dari Breaking News, Surplus Neraca dagang Indonesia pada Agustus 2021 itu mencapai US$4,74 miliar. Nilai ini sekaligus menembus pencapaian sebelumnya yang tercipta 15 tahun lalu atau pada 2006, yakni mencapai US$4,64 miliar. Nilai surplus yang memastikan jauh di atas perhitungan Juli 2021 sebesar US$2,6 miliar.

Sepanjang Agustus 2021. Indonesia melakukan ekspor sebesar US$21,42 miliar atau melonjak 21,75 persen secara bulanan. saat yang sama, Impor naik 10,35 persen secara bulanan menjadi US$16,68. Sementara secara tahunan melonjak 55,26 persen dari posisi tahun lalu sebesar US$10,74 miliar. Meningkat dibandingkan kinerja 2020.”kalau saya bandingkan dengan Agustus 2020 atau y-o-y, itu ekapor tumbuh sebesar 64,1 persen. Tumbuhnya sangat tinggi, kata Margo.

Pecahnya rekor ekspor sepanjang masa dan meningkatnya impor yang dilaporkan BPS menjadi penanda kesibukan di pelabuhan. Bagaimanapun, ekspor produk dari Indonesia ke pasar Internasional mengandalkan jalur laut yang lebih murah dari segi biaya dan lebih banyak secara kuantitas. demikian juga untuk mendatangkan sebagian bahan baku melalui impor. Maka menjadi pemandangan yang jamak truk berbadan lebar dengan peti kemas raksasa lalu lalang semakin meningkat di Terminal Peti Kemas milik PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) di pelabuhan ekspor lainnya.

Sisi bea cukai, dipimpin oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Tengah dilakukan upaya berkelanjutan reformasi untuk menciptakan “national logistic ecosystem” yang efisien. sedangkan dari jasa pelabuhan, Kementerian BUMN yang dipimpin Erik Thohir menggelar mega merger pada pintu gerbang ekspor dan impor. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang semula dibagi berdasarkan regional disiapkan melebur menjadi satu unit bisnis raksasa PT Pelindo  I, II, III dan IV yang menjalankan 103 pelabuhan utama di Tanah Air akan disatukan ke dalam Pelindo II dengan identitas baru Pelabuhan Indonesia (Pelindo).

Langkah yang diyakini menciptakan perusahaan pelabuhan peti kemas terbesar ke-8 di dunia dengan pengelolaan 16,5 juta TEUs. Merger juga mempercepat proses ekspor impor dengan satu pintu data. Proses ini juga menekan biaya logistik Indonesia yang saat ini disebut Bank Dunia mencapai 23 persen. Padahal standar dunia berkisar di 12 persen.

Afif Suhartono, Direktur Utama Pelindo II yang juga Ketua Organizing Committee Integrasi Pelabuhan Indonesia menyebutkan dalam biaya logistik nasional itu, Indikator Water atau Jasa kapal serta pelabuhan hanya 2,8 persen dari biaya logistik nasional. Dengan mengambil rata-rata, maka biaya pelabuhan dalam beban logistik sekitar 1,4 persen. Sedangkan biaya terbesar adalah pengangkutan didarat dan penyimpanan digudang. Akan tetapi, meski secara kontribusi langsung berpengaruh kecil, sektor ini menjadi kunci logistik nasional karena menjadi gerbang ekonomi nasional.