Dikutip dari Katadata.co.id, Bank Sentral Tiongkok, People’s Bank Of China (PBoC) menyuntikan dana 90 miliar yuan (US$ 13,9 miliar) atau sekitar Rp 198 triliun ke dalam sistem perbankan. Upaya penyelamatan mengatasi krisis gagal bayar perusahaan raksasa properti China Evergrande ini mendapat sambutan positif dari pasar global.

Evergrande kesulitan membayar utang jumbo yang jatuh tempo pada kamis pekan ini. Evergrande harus membayar bunga obligasi sebesar US$ 83,5 juta atau lebih Rp. 1,2 triliun. Ada pula pembayaran bunga surat utang senilai US$ 47,5 juta atau sekitar Rp. 676 miliar. kedua obligasi akan gagal bayar apabila Evergrande tidak melunasinya dalam waktu 30 hari.

Beberapa analis mengatakan perlu waktu berminggu-minggu bagi investor untuk memiliki kejelasan tentang bagaimana krisis Evergrande ini akan beres. Perusahaan dapat merestrukturisasi utangnya tetapi terus beroperasi, atau dapat dilikuidisasi. Tulis Paul Christopher, Kepala Strategi pasar global di Wells Fargo Investment Institute, dikutip dari Reuters 23/09/21. Dalam kedua opsi tersebut, investor dalam instrumen keuangan perusahaan kemungkinan akan menderita kerugian, tulisnya.

Menurut Sumber Reuters, sekelompok pemegang obligasi Evergrande baru-baru ini memilih bank investasi Moelis & Co dan firma hukum Kirkalnd & Ellis sebagai penasihat tentang restrukturisasi. para investor tersebut memegang sekitar US$ 20 miliar dari obligasi yang diterbitkan Evergrande. Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan pada 22/09/21 bahwa masalah Evergrande tampaknya hanya terjadi di Tiongkok dan tak melihat akan memberikan dampak paralel dengan sektor korporasi Amerika Serikat.

Dalam hal implikasinya bagi kami, tidak banyak paparan langsung Amerika Serikat. Bank-Bank besar Cina tidak terlalu terekspos, tetapi anda akan khawatir itu akan mempengaruhi kondisi keuangan global melalui saluran kepercayaan global dan hal semacam itu, kata Powell kepada wartawan setelah pertemuan kebijakan The Fed. Selain obligasi yang jatu bayar, Evergrande juga memiliki utang lebih dari US$ 300 miliar atau setara Rp. 2.437 triliun. Angkanya tidak jauh dari produk domestik bruto (PDB) Filipina 2020 yang sekitar US$ 361,5 miliar, Menurut data Bank Dunia.