Pelaku bisnis mengingkatkan operator pelabuhan dan stakeholders terkait tetap konsisten dalam upaya menekan dwelling time guna percepatan arus barang dan efesiensi cost logistik nasional. Berdasarkan Dashboard Indonesia National Single Window (INSW) yang dikutip pada 8 Februari 2023, dwelling time di Pelabuhan Belawan Sumatera Utara di laporkan rata-rata 2,59 hari, Tanjung Priok Jakarta 2,57 hari, Tanjung Emas dan Tanjung Perak Surabaya 2,82 hari, dan Pelabuhan Makassar rerata 4,90 hari.

Adapun pada januari 2023, Dwelling time di pelabuhan Belawan rata-rata 2,54 hari, Tanjung Priok 2,64 hari, Tanjung Emas dan Tanjung Perak 2,88 hari, Serta Makassar 5,19 hari. “kami ingatkan konsistensi itu diperlukan supaya program pemerintah dalam menurunkan cosh logistik secara nasional bisa terwujud. Ya, minimal jagalah itu (konsistensi) dwelling time di pelabuhan-pelabuhan utama sebagaimana yang kerap kali disampaikan Presiden Joko Widodo selama ini yakni dwelling time idealnya kurang dari tiga hari”. ujar Wakil Ketua Bidang Logistik Kepelabuhanan, dan Kepabeanan BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GilNSI) Erwin Taufan.

Dwelling time adalah waktu yang dihitung diawali dari sebuah peti kemas (kontainer) dibongkar muat dan di angkut (unloading) dari kapal hingga peti kemas itu keluar dari terminal pelabuhan. Atau juga bisa di artikan sebagai proses yang dibutuhkan sejak barang turun dari kapal atau barang di timbun hingga barang keluar dari pelabuhan. Taufan mengatakan, jika masih ada rata-rata dwelling time yang lebih tinggi seperti yang dialami pelabuhan Makassar saat ini, hal tersebut perlu di telusuri pemasalahanya. Apakah karena volume arus barang yang naik siginifikan, ataukah lantaran faktor lain seperti hambatan administratif pengurusan barang, keterbatasan peralatan dan fasilitas bongkar muat, termasuk ketersediaan buffer (penyangga) untuk menampung peti kemas di pelabuhan tersebut.

“Soalnya jika Dwelling time semakin lama, itu sama halnya proses pengeluaran barang juga lama. Kalau kondisi ini dialami importir tentunya sebagai pemilik barang mesti menambah beban cost yang lebih mahal. Makanya kami (GINSI) selalu menyoroti pelabuhan-pelabuhan yang mengalami Dwelling time lebih dari 3 hari. Hal itu supaya kondisi seperti itu jangan terus berulang, ucap Erwin Taufan.