Pengguna mata uang lokal atau Local Currency Transactioan (LCT) oleh importir dan exsportir semakin banyak. Hal ini diungkap oleh Calon Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di DPR. Menurutnya, Pada 2021 baru ada 536 eksportir dan importir yang menggunakan LCT. Namun per April 2024 jumlahnya meningkat menjadi 3.537 eksportir dan importir.
“Optimalisasi LCT kita lakukan, bahwa jumlah pelaku LCT utu terus mengalami peningkatan. Kalau 2021 baru sekitar 536 eksportir dan importir, sekarang sudah meningkat di April 2024 sudah menjadi 3.537 eksportir dan importir, “katanya dalam rapat DPR, jakarta pusat, Senin 3/6/2024.
Jumlah transaksi LCT juga mengalami peningkatan, dari US$ 2,5 miliar, atau Rp.40,50 triliun (kurs Rp. 16.200) di tahun 2021 menjadi US$ 6,3 miliar atau Rp. 102.06 triliun di 2023. Lalu per April 2024 transaksi LCT sudah menyentuh angka US$ 3 miliar atau Rp.48,60 triliun/. “ini tentunya akan kami dorong ke depan agar terjadi diverifikasi eksposure mata uang, kemudian ada pengembangan mata uang regional, pengembangan akses atau partisipasi pelaku pasar dan efesiensi biaya transaksi, tuturnya.
Pada kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa investasi hingga perdagangan Indonesia masih mengandalkan mata uang Paman Sam. Contohnya, untuk impor AS yang setara 5% dari keluhan impor di Indonesia, penggunaan dolar AS justru tembus 80%. “Sebagai contoh, kita lihat impor kita dari AS sebenernya hanya 5%. Tapi penggunaan dolar AS dalam impor kita itu 80% dari total value impor. Padahal impor dari AS hanya 5% dalam total impor. Ekspor hanya 10% tapi penggunaan dolar AS mencapai 93%,” Imbuhnya.
Oleh karena itu sejak tahun 2018 dikenalkanlah strategi LCT, dimulai dengan Thailand, Malaysia, Jepang dan China. Kerja sama LCT terus dikembangkan ke negara-negara lain seperti Korea, Singapura, hingga Uni Emirat Arab. “Nah oleh karena itu sejak tahun 2018 diperkenalkanlah strategi LCT, dimulai dari Thailand, Malaysia, dilanjutkan Jepang, China dan sekarang MoU sudah di tandatangani Korea, Singapura, dan Uni Emirat Arab. Dan kita akan terus mengembangkan mitra-mitra kita yang punya eksposure cukup tinggi dengan Indonesia dan mitra bersangkutan, “Pungkasnya.
