Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas), Dwi Rahmad Toto, mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memberikan tekanan terhadap biaya operasional perusahaan. Menurutnya, penggunaan alat berat yang masih bergantung pada BBM menjadi faktor utama meningkatnya pengeluaran operasional.
Ia menjelaskan bahwa gejolak geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat sebenarnya belum berdampak besar secara langsung. Namun, kenaikan harga BBM mulai terasa signifikan karena biaya bahan bakar yang sebelumnya lebih rendah kini meningkat hingga dua kali lipat.
Terkait pengaruhnya terhadap kondisi finansial perusahaan, Dwi menyebut pihaknya masih melakukan perhitungan menyeluruh. Dampak di level operasional sudah terlihat, tetapi evaluasi terhadap pengaruhnya secara korporasi masih dalam tahap kajian.
Lebih lanjut, ia menilai kenaikan biaya operasional berpotensi memicu peningkatan ongkos logistik secara umum, termasuk tarif pengangkutan kapal. Meski demikian, perusahaan belum dapat langsung menyesuaikan tarif layanan karena harus mengikuti aturan dan ketentuan regulator.
Saat ini, PTP Nonpetikemas masih mengkaji kemungkinan penerapan penyesuaian tarif maupun surcharge. Hasil kajian tersebut nantinya akan dibahas bersama regulator, yakni Kementerian Perhubungan, sebelum diterapkan. Dwi menegaskan bahwa setiap perubahan tarif perlu dipertimbangkan secara matang karena dapat berdampak luas kepada masyarakat.
Kinerja Bongkar Muat Triwulan I 2026
Di sisi lain, PTP Nonpetikemas mencatat capaian positif pada kinerja bongkar muat selama triwulan pertama 2026. Total throughput mencapai 12,44 juta ton atau sekitar 103,33% dari target RKAP 2026. Angka tersebut juga mengalami pertumbuhan 3,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dwi menyampaikan bahwa peningkatan volume bongkar muat hingga sekitar 3% tersebut didorong oleh pertumbuhan pada segmen curah cair dan curah kering.
Pada segmen curah cair, volume tercatat meningkat sekitar 16%, dari sebelumnya 2,6 juta ton menjadi 3,09 juta ton. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas ekspor komoditas CPO di cabang Teluk Bayur serta berlanjutnya kegiatan bongkar muat produk sawit di cabang Pontianak.
Selain itu, segmen curah kering juga mengalami kenaikan sekitar 10%. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh aktivitas bongkar muat pasir di cabang Tanjung Priok, peningkatan muatan PKE di Pelabuhan Dwikora, serta aktivitas bongkar muat komoditas seperti bauksit, batu bara, dan alumina.
Menurut Dwi, peningkatan pada curah kering terutama berasal dari kegiatan pembongkaran pasir dan sejumlah komoditas impor lainnya.
