Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada  2019 sebesar 5,02 persen. Tidak beranjak pada pusaran angka 5 dan masih jauh dari target yang tertuang dalam Evaluasi Paruh Waktu Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019. Dalam dokumen tersebut, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen pada 2015, tumbuh 6,6 persen pada 2016, menjadi 7,1 persen pada 2017, selanjutnya 7,4 persen pada 2018, dan menargetkan 8 persen pada 2019.

Sebagaimana situasi global, tahun ini perlambatan pertumbuhan ekonomi masih mengancam Indonesia. Salah satu faktor yang potensial memberi dampak tekanan bersumber dari perlambatan ekonomi China karena wabah Covid-19. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi wabah virus korona dapat berdampak pula pada ekonomi Indonesia karena ukuran ekonomi China sekarang sudah di atas 13 triliun dollar AS dengan kontribusi terhadap ekonomi dunia sebesar 17 persen. Jika China mengalami penurunan 1 persen dari pertumbuhannya, Indonesia akan juga terdampak sekitar 0,3 persen hingga 0,6 persen dari target pertumbuhan yang dipatok di kisaran 5 persen.

Sementara itu, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2020 sebesar 4,5 persen   Di luar pertumbuhan ekonomi, pelemahan perdagangan ekspor-impor, investasi, dan  pariwisata yang berasal dari China turut memengaruhi permintaan ekspor dan produksi industri dalam negeri. Selain itu, melambatnya pertumbuhan juga dikhawatirkan akan melemahkan daya beli masyarakat. Padahal, selama ini konsumen rumah tangga dan investasi memberi kontribusi tinggi bagi pertumbuhan ekonomi setiap tahun. Pada 2019, sumbangannya sebesar 2,73 persen. Disusul pembentukan modal tetap bruto atau investasi dengan sumbangan 1,47 persen.