Pemerintah terus berupaya meulihkan perekonomian akibat dampak Covid-19. hal itu terlihat melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang mengalami kenaikan anggaran mejadi Rp.677,2 triliun, dari rencana awal yang sebesar Rp.641,17 triliun.
menanggapi hal tersebut, ekonomi tersebut Faisal Basri menyampaikan agar anggaran besar yang telah dikucurkan pemerintah dapat tepat sasaran. Dengan begitu, hal terpenting yang harus difokuskan, yaitu sektor ekonomi yang paling terdampak, sehingga bisa memaksimalkan pelaksanaan PEN.
asumsi dari program PEN ini adalah, bahwa recovery perekonommian kita berbentuk huruf V, jadi kita akan mengalami pemulihan yang cepat. maka program stimulus ini bantuannya bersifat jangka pendek, ada yang tiga bulan , enam bulan, namun perlu dihitung untuk tahun depan daya dukung anggaranya seperti apa, “ujar Faisal Basri”
Momen pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 juga merupakan dinilai waktu yang tepat, untuk membenah kedisiplinan kinerja keuangan pemerintah. Faisal menyebut, dari sebelum adanya Covid-19 memang terdapat perusahaan-perusahaan pelat merah masih memiliki piutang dari negara.
dengan begitu, dengan adanya dampak Covid-19 kepada BUMN, makin menambah jumlah utang tersebut, jadi sebetulnya ini tidak ada hubungannya dengan ada atau tidak adanya Covid-19. utang negara kepada BUMN itu masih belum dibayarkan tepat waktu, maka ini catatan juga untuk kedisiplinan fiskal pemerintah “kata Faisal”
