Presiden terpilih Joe Biden telah berjanji untuk bekerja lebih dekat dengan sekutu AS dalam menghadapi China dalam perdagangan. Namun, tampaknya tidak mungkin untuk membatalkan tarif-tarif pendahulunya atas baja, alumunium, dan barang-barang lainya yang di impor dari China dan Eropa dalam waktu dekat. Penasehat biden mengatakan dia akan terus berusaha mengakhiri “perang perdagangan buatan” dengan eropa dan akan segera berkonsultasi dengan sekutu AS sebelum memutuskan masa depan tarif AS atas barang-barang China, dalam upaya untuk “pengatuh kolektif” terhadap Beijing.

Mantan pejabat perdagangan pemerintahan Trump dan Obama mengatakan bahwa untuk menurunkan tarif  barang-barang China, Biden kemungkinan akan menuntut konsesi dasar yang sama dari China seperti yang dilakukan Trump, mengatasi subsidi besar-besaran kepada perusahaan yang dikendalikan negara, mengakhiri kebijakan yang memaksa perusahaan-perusahaan AS untuk mentransfrer teknologi ke mitra china, dan membuka pasar layanan digitalnya keperusahaan teknologi AS (konstituensi donor Biden besar lainnya)

Biden dikatakan Andry, telah merancang kebijakan terkait pengutaan untuk membeli produk-produk AS atau dikenal dengan istilas Buy America, kebijakan itu akan di iringi dengan kebijakan pengadaan investasi senilai US$400 miliar. kebijakan tersebut dianggap untuk memberikan daya dongkrak permintaan terhadap produk-produk AS.

selain itu Biden juga akan menerapkan kebijakan pajak korporasi yang lebih tinggi dari yang sebesar 21 persen menjadi 28 persen serta penerapan pajak minimum untuk perusahaan di luar AS, dengan kebijakan itu Biden memperkirakan bahwa aliran investasi akan sangat besar ke negara-negara berkembang dibawah kepemerintahannya, Indonesia harus bisa menagkap peluang tersebut, “Dan juga investment diversion dari China karena kalau kita tidak bisa memanfaatkan investment diversion dari China kita akan kalah karena pada saat trade war kita tidak dapat apa dari perpindahan investasi di China,” kata dia.