Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menilai Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa (Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA) berpotensi memberi keuntungan besar bagi sektor logistik domestik, bukan sekadar untuk perdagangan.

Ketua Umum ALI, Mahendra Rianto, menyebut terbukanya akses ke pasar Uni Eropa melalui kesepakatan ini—terutama setelah Indonesia menghadapi beban tarif 19% dari Amerika Serikat—harus dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku industri maupun instansi pemerintah terkait.

Dengan adanya pembebasan tarif hingga 80% untuk produk Indonesia yang masuk ke Eropa, peluang ekspor semakin terbuka. Namun, Mahendra menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terkait daya saing produk nasional di pasar Eropa.

“Kalau kualitasnya terjamin dan harganya kompetitif, ekspor pasti akan tumbuh. Dan di situ logistik akan selalu mengikuti arus perdagangan,” katanya.

Ia menambahkan, setelah perdagangan berhasil menembus pasar Eropa, langkah berikutnya adalah memastikan perusahaan logistik lokal ikut ambil bagian dalam rantai distribusi ekspor. Harapannya, pengiriman barang ke luar negeri tidak hanya dikuasai oleh pemain logistik asing.

“Jangan sampai kita bisa ekspor, tapi justru harus memakai jasa perusahaan logistik Eropa. Kita hanya jadi penonton. Kalau bicara bersaing, kita siap bersaing, tidak ada alasan untuk takut,” tegas Mahendra.

Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah bersama pelaku industri menyusun kebijakan yang mendukung logistik nasional sekaligus memaksimalkan momentum pasar Uni Eropa.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan penandatanganan perjanjian IEU-CEPA akan dilakukan pada 23 September 2025. “Dengan kesepakatan ini, 80% produk Indonesia yang masuk ke Eropa akan dikenakan tarif 0%, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Airlangga optimistis perjanjian ini dapat meningkatkan nilai perdagangan Indonesia–Uni Eropa hingga 2,5 kali lipat, mengingat saat ini nilainya masih sekitar US$30 miliar.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso juga memperkirakan ekspor Indonesia ke Eropa bakal melonjak signifikan setelah perjanjian berlaku. Ia mencontohkan, pada semester I/2025 saja, surplus perdagangan Indonesia terhadap Uni Eropa sudah mencapai US$3,79 miliar.

“Ini sinyal positif. Bahkan sebelum IEU-CEPA diimplementasikan, ekspor kita sudah menunjukkan tren kenaikan. Harapannya tentu akan terus meningkat,” ujar Budi dalam paparan kinerja ekspor semester I/2025 di Kementerian Perdagangan.