Kebijakan tarif resiprokal atau imbal balik yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam stabilitas sector manufaktur Indonesia.
Pemerintah Indonesia menyatakan akan terus memantau perkembangan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional dan menjaga daya tahan ekonomi dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pun bakal memanggil pelaku industry untuk membahas tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump.
Airlangga mengatakan bahwa pertemuan itu merupakan wadah bagi pelaku usaha yang ingin memberikan masukan terhadap pemerintah terkait kebijakan AS tersebut.
“Seluruh industry akan diundang untuk mendapatkan amsukan terkait dengan eskpor mereka dan juga terkati dengan hal-hal yang perlu kita jaga terutama sector padat karya,” ujarnya.
Dia menambahkan, masukan dari pelaku usaha bakal menjadi bagian dari proses perumusan strategi kebijakan dalam merespons tarif resiprokal tersebut.
“karena ini masih dinamis dan masih perlu working group untuk terus bekerja,” tambahnya.
Adapun, Airlangga mengungkap hingga saat ini pihaknya terus melakukan komunikasi secara intens dengan pihak terkait untuk merespons kebijakan Trump.
Sejumlah pihak tersebut mulai dari United States Trade Representative (USTR), US Chamber of Commerce, hingga negara mitra lainnya. Adapun, airlangga mengaku bahwa pihaknya telah ditenggat untuk menentukan langkah Indonesia terkait kebihakan AS.
“Kita dikenakan waktu yang sangat singkat, yaitu 8 April, diminta untuk merespons. Indonesia menyiapkan rencana aksi dengan memperhatikan beberapa hal, termasuk impor dan investasi dari Amerika Serikat,” tutur Airlangga.
Dalam catatan Bisnis, AS selama beberapa dasawarsa terakhir adalah mitra dagang utama Indonesia. Salah satu negara tujuan ekspor. Produk-produk manufaktur hingga produk kayu mengalir deras ke sana. Alhasil, neraca perdagangan RI-AS selalu surplus selama 4 tahun belakangan.
PBS mencatat bahwa pada 2021, surplus neraca perdagangan antara Indonesia dengan AS mencapai US$14,5 miliar. Tahun 2022, terjadi lonjakan surplus hingga mencapai US$16,5 miliar . namun pada tahun 2023, surplus negara perdagangan Indonesia dengan AS menyusut menjadi US$11,9 miliar.
Pada 2024, data sampai Desember, ekspor nonmigas Indonesia ke AS tercatat mencapai US$26,3 miliar. Sementara impor non-migas dari AS hanya di angka US$9,6 miliar. Surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap AS mencapai angka di kisaran US$16,85 miliar.
Sementara itu, jika mengacu data dari United States Trade Representative (USTR), perdagangan barang antara AS dengan Indonesia diperkirakan mencapai $38,3 miliar pada tahun 2024. Ekspor barang AS ke Indonesia pada tahun 2024 sebesar US$10,2 miliar, naik 3,7% (US$364 juta) dari tahun 2023.
Impor barang AS dari Indonesia mencapai US$28,1 miliar pada tahun 2024, naik 4,8% (US$1,3 miliar) dari tahun 2023. Defisit perdagangan barang AS dengan Indonesia sebesar US$17,9 miliar pada 2024, meningkat 5,4% (US$923 juta) dari tahun 2023.
Walhasil, pengenaan tarif resiprokal 32% kepada Indonesia jelas mengancam neraca perdagangan Indonesia-AS yang belakangan terus meningkat.
