Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementrian perhubungan (Kemenhub), Antoni Arif Pribadi, mengklaim telah membangun pelabuhan baru serta tol laut di Indonesia. Ia menambahkan selain membangun pelabuhan baru dan tol laut, sebanyak 165 pelabuhan sedang dilakukan renovasi.
Menurutnya, pembangunan itu bagian dari capaian yang telah dilakukan Ditjen Perhubungan Laut selama 10 tahun terakhir. Antoni menjelaskan pembangunan itu bertujuan untuk memperluas mobilitas di laut.
“serangkaian pembangunan infrastruktur transportasi laut telah dilaksanakan untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas, di antaranya 28 pelabuhan baru dan 165 rehabilitas pelabuhan di berbagai penjuru Nusantara,” kata Antoni
Antoni berujar tol laut yang merupakan bagian program unggulan dari Kementrian PErhubungan. “ tol laut telah melayani 39 trayek dan berhasi menghubungkan berbagai wilayah di Indonesia, khususnya daerah-daerah terpencil yang sebelumnya sulit dijangkau,” kata Antoni.
Menurutnya, tol laut merupakan program yang menjadi kekuatan utama dalam distribusi logistic nasional. Adanya tol laut dapat menekankan perbedaan harga barang di Indonesia secara maksimal.
“Tol Laut menjadi tulang punggung distribusi logistic nasional. Dengan adanya Tol Laut, disparitas harga barang di wilayah barat dan timur Indonesia dapat ditekan secara signifikan,” ujarnya.
Sementara itu, Kementrian Perhubungan optimis target muatan kapal dalam program tol laut akan terus tumbuh. Terlebih, saat ini kemenhub telah melakukan digitalisasi layanan dalam program kargo bersubsidi itu.
Direktur Lalu Lintas dan Angkatan laut Kementrian Perhubungan, Mugem Suprihatin Sartoto, mengatakan volume barang yang terdistribusi lewat kapal tol laut tumbuh pesat. Tingkat keterisian saat kapal berangkat sudah dianggap memuaskan karena sudah melebihi 60 persen, kata Mugen.
“yang perlu digenjot itu muatan balik. Setidaknya kalau ada kenaikan 40 persen dari 2021, sudah bagus” ucapnya.
Berdasarkan hitungan pada awal bulan Februari 2022, menurut MUgen, realisasi muatan tol laut naik 164 persen atau hampir dua kali lipat secara tahunan. Hitungan itu, kata dia baru didasari pergerakan di 10 trayek yang dilayani PT. Pelni ( Persero).
Beliau mengatakan, jumlah itu belum menckup data dari operator pelat merah lainnya maupun operator swasta.
