Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan hasil negoisasi tarif timbal balik dengan Amerika Serikat kepada Presiden Prabowo Subianto.

Airlangga menyebutkan, AS mengapresiasi semua hasil negoisasi yang dikirim delegasi Indonesia.

“Saya laporkan kepada Bapak Presiden bahwa secara prinsip apa yang ditawarkan Indonesia dalam bentuk surat yang diajukan tanggal 7 April dan tanggal 9 April, mendapatkan apresiasi dari Amerika karena surat yang Indonesia masukkan relating komprehensif,” ujarnya.

Menurutnya, surat itu menawarkan keadilan dan kesetaraan dalam negosiasi tarif.

Indonesia juga mengusulkan keseimbangan neraca perdagangan dengan AS dan membuka pembahasan hambatan non-tarif.

“Jadi tidak hanya bicara mengenai tarif, juga bicara mengenai non-tarif, dan juga mengenai rencana Indonesia menyeimbangkan neraca perdagangan, jadi kita sebut itu fair and square,” tuturnya.

“Neraca perdagangannya sekitar 19, kita berikan lebih dari 19,5. Jual beli langsung 19,5, namun kita juga ada proyek yang kita akan beli dari Amerika,” ujarnya.

Delegasi Indonesia telah bertemu sejumlah tokoh di AS, seperti US Secretary Commerce howard Lutnick, US Secretary of Treasury Scoot Bessent, dan US Director of National Economic Council Kevin Hassett.

Delegasi juga berdiskusi secara virtual dengan Menteri Luar Negeri Australia Don Farrel dan Menteri Perdagangan serta Industri Korea Selatan Ahn-deuk geun.

“Juga bertemu dengan beberapa perusahaan semikonduktor Amerika seperti Semiconductor Industry Association, United States Asian business Council, United States Industry Indonesia Society. Ada Asia Group, Amazon, Boeing, Microsoft, dan Google,” tambah Airlangga.

Airlangga menegaskan, Indonesia meminta tarif resiprokal setara dengan negara Asia lain seperti Vietnam dan Bangladesh.

Tujuannya agar medan perdagangan lebih adil.

“Terkait dengan permintaan Indonesia terhadap tarif yang sifatnya resiprokal, artinya untuk komoditas-komoditas utama Indonesia yang eskpor ke Amerika, Indonesia minta agar tarif kita setara dengan negara lain,” katanya.

“Apakah itu Vietnam, apakah itu Bangladesh, sehingga kita dengan yang lain itu dapat equal level playing field,”tegasnya.

Airlangga tidak merinci komoditas utama yang dimaksud.

Ia menambahkan, isi negoisasi tarif tidak bisa disampaikan ke publik.

Kedua negara telah menandatangani non-disclosure agreement yang mengikat secara hukum.

“Indonesia sudah mendandatangani non-disclosure agreement, artinya apa yang kita bahas itu hanya untuk dua belah pihak. Kita tidak publish ke masyarakat ataupun ke pihak lain. Dan secara geopolitik tentu Indonesia dianggap penting oleh Amerika,” katanya.

Menurut Airlangga, semua poin tawaran Indonesia bersifat saling menguntungkan.

Indonesia juga tidak membuat pembedaan perlakukan antara AS dan negara lain.

Presiden Prabowo telah menyetujui pembentukan tiga satgas untuk mengawal negoisasi dengan AS.

Ketiganya fokus pada perdagangan, investasi, ketenagakerjaan dan deregulasi.

Airlangga juga menyebut akan ada satu satgas tambahan, yaitu Satgas peningkat iklim Investasi dan Percepatan Perizinan Perusahaan.

“Dengan satgas dan perundingan ini diharapkan Indonesia bisa dalam posisi untuk mempercepat perundingan dengan Amerika Serikat,” ujarnya.