Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus meningkatkan daya saing logistik maritim. Salah satunya adalah dengan cara menggeber efisiensi operasional pelabuhan.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Antoni Arif Pribadi mengungkapkan pemerintah saat ini melakukan transformasi digital pada sektor transportasi laut.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah telah mengambil langkah signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan transparansi proses kepelabuhanan melalui penerapan Maritime Single Window (MSW). Direktur Jenderal Perhubungan Laut Antoni Arif Priadi menyebut inisiatif ini telah dimulai sejak tahun 2016.
“Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk mendukung transformasi digital di sektor transformasi laut,” Ujar Antoni.
Antoni menjelaskan Workshop Maritime Single Window 2024 ini diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan dan menjadi tahun kedua forum tahunan ini digelar. Tahun ini, Workshop MSW dihadiri oleh sekitar 100 perserta dari 12 (dua belas) negara, yaitu Brunei Darussalam, kamboja, Ekuador, Ethiopia, Kenya, Liberia, Madagaskar, Maladewa, Nigeria, Papua Nugini, Filipina, Togo, dan Indonesia serta menghadirkan pembicara tamu dari Jepang dan Indonesia sebagai tuan rumah.
Antoni mengerangkan Maritime Singkle Window di Indonesia memungkinkan penurunan waktu proses clearance yang signifikan, mengurangi penumpukan dokumen, serta menurunkan beban administratif bagi pelaku bisnis.
“Dengan dukungan teknologi digital, proses permohonan izin, pengecekan dokumen, hinggal pengelolaan lalu lintas barang dapat dilakukan dengan lebih cepat dan transparan, sehingga mengurangi biaya operasional logistik. Keuntungan ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri maritim nasional tetapi juga oleh perusahaan internasional yang beroperasi di Indonesia, meningkatkan daya saing logitik nasional secara keseluruhan,” kata Antoni.
Melalui upaya ini, pihaknya telah menghubungkan 264 pelabuhan di seluruh negeri melalui sistem INAPORTNET. Inaportnet merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam memperlancar kapal masuk pelabuhan, kegiatan bongkar muat serta kapal meninggalkan pelabuhan. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap lamanya kontainer berada di pelabuhan.
“Langkah ini, tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan tetapi juga mendorong integrase ekonomi dengan jaringan perdagangan internasional, memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia,” terang Antoni.
