Kendati masih mencatat surplus, kinerja ekspor lagi-lagi menurun. Penurunan atau kontraksi ini tercatat mencapai 12,15% (yoy) pada Januari – Oktober 2023 yakni menjadi US$ 214,41 miliar dari periode sama tahun lalu yang masih di US$ 244,06 miliar.
Tren ini penurunan ini memang di pandang beberapa kalangan sebagai sesuatu yang masih dalam tahap wajar, karena tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga negara-negara lain akibat fenomena global, seperti konflik geopolitik dan juga perlambatan ekonomi.
Hal ini bisa di mengerti karena nyatanya memang bukan hanya ekspor, kinerja impor pun mengalami kontraksi yang lagi-lagi biang keroknya adalah kondisi global yang bergejolak seperti terganggunya rantai pasok akibat konflik di sejumlah negara, maupun permintaan global yang melemah
Tak hanya faktor global, kinerja ekspor yang menurun signifikan juga sebagai dampak dari kebijakan pemerintah dengan membatasi ekspor di beberapa sektor mineral dalam konteks hilirisasi. Khusus untuk kasus ini, tentunya pemerintah seharusnya sudah memperhitungkan konsekuensinya, karena tujuan pelarangan tersebut adalah untuk kebaikan jangka menengah panjang, yakni terciptanya nilai tambah di dalam negeri. Karena dari larangan itu, harapanya muncul industri pengolahan lanjutan dari produk mineral tersebut.
Namun tentu saja kontraksi ekspor maupun impor harus diwaspadai karena akan berdampak langsung terhadap perekonomian nasional, besar maupun kecil. Saat ini pertumbuhan ekonomi nasional sebagian besar masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih terjaga, sehingga penurunan ekspor mungkin tidak berdampak terlalu besar terhadap perekonomian Indonesia.
Namun, jangan juga dianggap lumrah, karena jika terus berlanjut, akan mempengaruhi neraca perdagangan nasional. Apalagi kontraksi tidak hanya dialami sektor migas, juga nonmigas secara hampir merata. Harus diakui, fondasi kinerja ekspor nasional masih mengandalkan harga komoditas dunia. Bisa ditebak, ketika harga komoditas meroket (price booming), tanpa bersusah payah Indonesia bak kejatuhan durian runtuh menerima hasil ekspor yang melimpah. Namun sebaiknya, saat harga komoditas goyah, seketika kinerja langsung merosot.
Dari sini, jelas sekali ada yang harus dibenahi. Tak bisa semata-mata hanya menandalkan harga. Secara kuantitas ekspor harus didorong. Caranya tentu denga campur tangan pemerintah. Kinerja ekspor didorong antara lain dengan memberikan kemudahan prosedur ekspor serta dengan insentif berupa subsidi ekspor bagi produk produk Indonesia yang menghadapi persaingan ketat di pasar global.
Strategi lainnya menurut para ahli adalah memperluas pasar ekspor Indonesia dan fungsi market intelijen harus dihidupkan. Market intelijen berfungsi untuk mencari info produk yang dibutuhkan oleh pasar ekspor, sekaligus berfungsi mengurangi impor. Dari sisi produsen alias pelaku ekspor juga harus tetap mendapatkan pembinaan dan pendampingan agar kualitas produk ekspor semakin baik dan diterima oleh pasar global.
