Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari-Juli 2020 Indonesia telah mengimpor barang dari Prancis senilai US$ 682 juta, Angka ini turun jika dibandingkan dengan priode yang sama ditahun lalu. Seruan pemboikotan tersebut juga menampilkan berbagai jenis produk, mulai dari kosmetik, fashion, makanan, otomotif, hingga energi.
Adapun Brand fashion produk Prancis yang larid di Indonesia adalah Louis Vuitton, Chanel, Hermes, Mont Blanch, Givenchy, Yves Saint Laurent dan lainya, selain itu, produk kecantikan L’Oreal dan Garnier yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia juga ikut terjaring seruan pemboikotan.
Seruan boikot produk Prancis tak hanya terjadi di Timur Tengah, kini sudah sampai ditanah air, politis, artis dan ulama pun turut mengajak masyarakat memboikot produk asal Prancis di Indonesia. Hal ini dipicu oleh sikap Presiden Prancis Emmanuel Marcon yang sempat mendukung kebebasan berekspresi terkait kontroversi kartun Nabi Muhammad SAW yang ada di negaranya.
Kementrian Luar Negri Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu bahwa seruan untuk memboikot produk Prancis di beberapa bagian Timur Tengah dan seruan untuk demontrasi melawan Prancis tidak berdasar, “Harus segera dihentikan”, kata Kementrian tersebut seperti dikutip AFC Senin, (26-10-2020). Pernyataan itu menambahkan bahwa semua “serangan” terhadap Prancis juga harus dihentikan dan bahwa hal itu didorong oleh minoritas radikal.
Kementrian tersebut mengatakan bahwa mereka memobilisasi jaringan diplomatiknya untuk menjelaskan sikap Prancis kepada mitranya. meminta pemerintahnya menjauhkan diri dari seruan boikot dan memastikan keselamatan warga negara Prancis, pembelaan itu muncul setelah seorang guru di Prancis di penggal minggu lalu di dekat Prancis setelah ia menujukan kartun Nabi kepada muridnya dalam diskusi kebebasan berekspresi dikelas.
Marcon mengatakan guru yang dibunuh, Samuel Paty, adalah korban seranga teroris islami, kami tidak akan menyerah soal kartun, katanya dalam upacara penghormatan untuk Pety minggu lalu, ia dibunuh karena islamis menginginkan masa depan kita “ujarnya sambil bersumpah” mereka tidak akan pernah memilikinya.
