Ekspor APD Indonesia sangat diminati oleh pasar Eropa sejak tiga bulan lalu sejak Kementrian Perdagangan mencabut larangan ekspor sejumlah produk penanganan Covid-19 lewat pelaturan Mentri Perdagangan Nomor 57 Tahun 2020 tentang ketentuan Expor bahan baku Masker, dan Alat Pelindung Diri (APD).

Kendati demikian, penambahan kapasitas produk dalam negri juga APD juga terus ditingkatkan, mulai dari usaha kecil dan micro sampai ke skala besar mulai merambah pasar APD karena memang permintaannya yang cukup tinggi, terang Fajar.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), Ekspor Pakaian Pelindung Medis (Coverall) dengan kode HS 62101019 naik 72,1 persen dari US$331.679 pada juni menjadi US$571.199 pada Juli, Meski mengalami penurunan selama Juni-Juli, ekspor masker non-medis ke Amerika Serikat menjadi kontributor terbesar, Pelaku usaha dalam negri mengamini bahwa permintaan ekspor dari Amerika Serikat dan Eropa emndominasi pengiriman.

SRILL membuka peluang ekspor sejak pertengahan tahun. sejauh ini inquiry sudah ditemukan ke Eropa dan Amerika “kata kepala komunikasi perusahaan PT.Sri Rejeki Isman Tbk. (SRILL) Joy   Citradewi”. Hal itu senada disampaikan oleh Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk. Anne Patricia Sutanto yang menyebutkan bahwa ekspor APD perusahaan kedepannya akan didominasi ke Eropa dan AS meski demikian, dia menyatakan perusahaan juga akan menjajal pasar potensial lain seperti Afrika dan Timur Tengah.

Menguntip data Word Integrated Trade Solution (WITS) World Bank, Indonesia memang tidak masuk jajaran utama negara eksportir produk garmen medis dengan kode HS 621010. pada 2018, Indonesia hanya menempati peringkat ke-16 dari total nilai US$14,33 Juta.