Pengenaan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS) sejak Agustus 2025 diperkirakan memberikan tekanan besar pada ekspor negara-negara Asia Tenggara, dengan Vietnam menjadi pihak yang paling terpukul. Menurut laporan United Nations Development Programme (UNDP), kebijakan tersebut berpotensi memangkas hingga 20% ekspor Vietnam ke AS.

Philip Schellekens, Kepala Ekonom UNDP untuk kawasan Asia-Pasifik, menjelaskan bahwa dalam skenario terburuk, tarif 20% yang dikenakan pada produk Vietnam dapat memicu penurunan ekspor lebih dari US$25 miliar, atau hampir seperlima dari total pengiriman tahunan ke pasar AS.
“Di Asia Tenggara, tidak ada negara yang lebih rentan terhadap tarif AS selain Vietnam. Di Asia Timur, hanya Tiongkok yang dampaknya lebih besar jika dilihat dari nilai dolar,” ungkap Schellekens,

UNDP memperkirakan, ekspor Vietnam ke AS bisa berkurang sekitar 19,2%, hampir dua kali lipat rata-rata penurunan ekspor Asia Tenggara sebesar 9,7%. Kawasan ini sendiri dikenal sebagai salah satu basis industri manufaktur terbesar di dunia.

Untuk negara Asia Tenggara lainnya, dampak tarif diproyeksikan lebih ringan: ekspor Thailand berkurang 12,7%, Malaysia 10,4%, dan Indonesia 6,4%.

UNDP juga menghitung, kontraksi ekspor bisa menggerus sekitar 5% Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam, meskipun efek nyata kemungkinan baru terasa dalam beberapa tahun mendatang. Meski demikian, tekanan dapat diimbangi dengan diversifikasi pasar, penguatan konsumsi dalam negeri, serta sebagian biaya yang ditanggung langsung oleh eksportir.

Perhitungan UNDP didasarkan pada asumsi bahwa bea masuk sepenuhnya dibebankan pada konsumen AS, sehingga menurunkan permintaan. Namun, sejauh ini lonjakan inflasi di AS akibat tarif masih relatif terkendali.
Selain itu, simulasi UNDP belum memasukkan potensi dampak tarif 40% atas barang transit melalui Vietnam. Jika kebijakan tersebut diberlakukan, efeknya bisa lebih serius mengingat ekspor Vietnam sangat bergantung pada pasokan komponen dari Tiongkok.

Walau terdapat pengecualian untuk produk elektronik konsumen—yang mencakup sekitar 28% dari ekspor Vietnam ke AS—risiko penurunan ekspor tetap tinggi. Bahkan, dengan pengecualian itu, potensi kerugian masih diperkirakan mencapai US$18 miliar.

Data perdagangan AS menunjukkan bahwa pada 2024 Vietnam menempati posisi keenam sebagai eksportir terbesar ke Negeri Paman Sam, dengan nilai ekspor mencapai US$136,5 miliar. Sebagian besar barang tersebut diproduksi di fasilitas milik perusahaan multinasional, baik asal AS maupun asing.

Sementara itu, data resmi dari Vietnam pasca-berlakunya tarif pada 7 Agustus mencatat penurunan ekspor ke AS sebesar 2% dibanding bulan sebelumnya. Produk alas kaki—di mana Vietnam menjadi pemasok terbesar kedua dunia—tercatat turun 5,5%. Penurunan ini terjadi setelah adanya lonjakan pengiriman menjelang pemberlakuan tarif.

Akibat kondisi tersebut, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam tahun ini.