Perlambatan ini diperkirakan masih akan berlanjut dengan proyeksi pertumbuhan China terus menurun menjadi 5,9% pada 2020 dan 5,8% pada 2021. Arus perdagangan pada negara terpadat di dunia itu pun menukik tajam. Baru-baru ini, polling ekonom Reuters memperkirakan pertumbuhan ekspor China terkontraksi lebih dalam mencapai -3%. Sementara Bank Dunia mencatat, ekspor barang China hanya tumbuh 0,4% pada delapan bulan pertama tahun ini, dibandingkan periode yang sama tahun lalu di mana ekspor tumbuh 9,9%. Pertumbuhan impor lebih tertekan lagi, yaitu turun 4,6% yoy per Agustus, dibandingkan pertumbuhan 15,8% yoy pada periode sama tahun lalu. Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves telah menggambarkan, setiap penurunan 1 poin persentase (percentage point) pada ekonomi China akan berdampak pada penurunan ekonomi Indonesia sebesar 0,3 percentage point.
Bank Dunia dalam laporan teranyar bertajuk East Asia and Pacific Economic Update Oktober 2019: Weathering Growing Risk memprediksikan, pertumbuhan ekonomi China tahun ini hanya akan mencapai 6,1% secara year-on-year (yoy), melambat dari pertumbuhan 6,6% pada 2018. Suahasil mengakui, perlambatan ekonomi dunia termasuk China memukul pertumbuhan Indonesia dari sisi ekspor barang dan jasa. Permintaan dari negara-negara lain lesu dan harga komoditas sumber daya alam yang menjadi andalan Indoensia pun tertekan mengakibatkan ekspor terkontraksi. Ini terlihat dari indeks Purchasing Managers Index (PMI) versi Nikkei untuk Indonesia yang berada di posisi 49,23 atau di bawah level ekspansif 50. Sementara, Bank Indonesia mencatat Prompt Manufacturing Index (PMI) kuartal III-2019 turun 0,62% menjadi 52,04%.“Perlambatan ekspansi kegiatan usaha diprakirakan akan terus berlanjut di triwulan IV 2019, tercermin pada prakiraan PMI riwulan IV-2019 sebesar 51,90% yang lebih rendah daripada triwulan sebelumnya,” terang BI beberapa hari lalu.
