Realisasi nilai ekspor Jawa Timur (Jatim) mencapai menjadi sebesar US$2,09 miliar dan impor sebesar US$2,32 miliar pada bulan Februari 2025.
Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur, Dudung Rudi Hendratna, mengatakan realisasi ekspor Jawa Timur pada bulan Februari 2025 meningkat bila dibandingkan dengan bulan Januari yang mencapai US$1,96 miliar dan bulan Februari 2024 yang mencapai US$1,81 miliar.
Realisasi ekspor sebagian besar 91,15% berasal dari sektor industri pengolahan dengan tujuan ekspor nonmigas Amerika Serikat, China, dan Jepang. Sedangkan impor Jawa Timur sebagian besar 84,77% digunakan untuk bahan baku/penolong, dengan negara utama asal impor nonmigas adalah China, Amerika Serikat, dan Jerman.
Menurutnya, ketidakstabilan kondisi politik global baik di Eropa maupun Timur Tengan memengaruhi permintaan dan penawaran barang. Kebijakan tarif Trump juga dapat memicu perang dagang.
Dia menegaskan pula, Indonesia harus siap mitigasi risiko dan memanfaatkan peluang volatilitas harga komoditas, perang dagang, tingkat suku bunga tinggi agar neraca perdagangan terkendali yang bisa berdampak ke aspek lainnya seperti nilai tukar rupiah, permintaan dalam negeri dan lain-lain.
Terkait infalsi, pada bulan Maret 2025 terjadi inflasi sebesar 0,77% year-on-year, bergerak naik setelah bulan sebelumnya mengalami deflasi karena adanya momen Ramadhan dan idul fitri sehingga memengaruhi konsumsi masyarakat terhadap beberapa komoditas khususnya produk makanan, minuman dan komoditas transportasi.
Sedangkan Februari terjadi deflasi -0.33% (yoy), yang sebetulnya juga terjadi di Januari 2025, disebabkan adanya diskon 50% tarif listrik PLN untuk periode Januari dan Februari.
Untuk Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) per Maret 2025 , kata dia, menunjukkan daya beli meningkat dengan masing-masing nilai sebesar 111,61 untuk NTP dan 100,49 untuk NTN.
Ekonom Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai perkembangan ekspor yang Masih menjanjikan menjadi modal positif untuk pertumbuhan. Dampak kebijakan Trump akan dapat terlihat mulai Mei ini.
Tentunya, dia berharap, Pemprov Jatim harus berupaya memperluas pasar ekspor untuk menghindari penurunan ekspor ke AS. Timur Tengah, Amerika Latin, Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara masih potential untuk pasar produk Jatim.
Di sisi lain, dia menegaskan, ketergantungan terhadap bahan baku impor akan menjadi kendala jika harga kurs rupiah tidak stabil dan geopolitik memanas.
Oleh karena itu, dia menyarankan, pengembangan industri substitusi impor harus menjadi agenda dalam pengembangan industri Jawa Timur dalam jangka menengah maupun jangka panjang.
