Menurut Direktur Pengembangan Produk Ekspor, Olvy Andrianita, mengataka di tengah normal baru, negara tujuan ekspor mamin semakin memperketat persyaratan bagi produk yang akan memasuki pasar mereka, karena itu dia meminta eksportir lebih memperhatikan keamanan mamamin yang hendak diekspor, serta regulasi terbaru yang dibuat pemerintah negara tujuan.

Adanya kebijakan lockdown diberbagai negara dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia juga memberikan dampak kepada industri makanan dan mimuman. salah satunya dalam hal logistik dan distribusi produk perubahan pada pola perdagangan global kerja sama perdagangan tidak berjalan efektif selama pandemik dan ancaman resesi ekonomi global.

Peningkatan daya saing produk juga harus dilakukan, seperti fasilitasi penguatan desain, antara lain melalui Indonesia Desain Development Center (IDDC) dan Good Design Indonesia (GDI) yang terkoneksi dengan G-Mark Jepang, Designer Dispatch Service (DDS), Klinik Konsultasi Desain di IDDC, fasilitasi sertifikasi, dan hak kekayaan intelektual.

Menurut Kasan, produk mamin yang berbahan coklat, rempah, kopi dan teh berpotensi meningkatkan ekspornya ditengah pandemi covid-19, Kemendag mencatat, pada 2019 produk mamin tumbuh mencapai 7,78% pertumbuhan tersebut lebih besar dibandingkan pertumbuhan sektor non-migas yang sebesar 4,34% Produk mamin Indonesia merupakan produk yang prosfektif dalam mendunkung pertumbuhan di sektor perdagangan.