Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkap impor barang konsumsi seperti bawang putih, apel, hingga mobil listrik mengalami kenaikan signifikan pada bulan Maret 2025.
Budi Santoso selaku Mendag mengatakan bahwa impor barang konsumsi naik 18,73% dibandingkan bulan sebelumnya pada Maret 2025, begitu pula dengan impor barang modal yang naik sebesar 7,28%.
Sementara itu, budi menyampaikan bahwa impor barang modal yang naik signifikan adalah mesin sortir, mesin pemanas, computer, pesawat terbang, dan kapal tanker.
Di sisi lain, impor bahan baku dan penolong tercatat mengalami penurunan sebesar 3,27%. Adapun impor bahan baku dan penolong yang turun di antaranya gandum, kedelai, tebu, batu bara bitumen, dan pipa.
Maka dari itu, kinerja impor pada bulan Maret 2025 masih didominasi bahan baku dan penolong dengan pangsa 71,23%, diikuti barang modal 19,56%, dan barang konsumsi 9,21%.
Secara keseluruhan, impor Indonesia tercatat sebesar US$18,92 miliar. Nilainya naik 0,38% dibandingan Februari 2025 dan naik 5,34% dibandingkan dengan bulan Maret 2024 lalu.
Jika dibandingkan dengan bulan Februari 2025, kenaikan impor bulan Maret 2025 hanya terjadi pada sector migas sebesar 9,07%, sementara impor nonmigas turun sebesar 1,18%.
Adapun, beberapa produk impor nonmigas dengan kenaikan tertinggi pada Maret 2025 diantaranya buah-buahan (HS 08) naik 56,63% dan pupuk (HS 31) naik 46,06%.
Kemudian, kertas, karaton, dan barang daripadanya (HS 48) yang naik 29,12%. Kain rajutan (HS 60) naik 23,69%, serta ampas dan sisa industry makanan (HS 23) naik 14,60% dibandingkan bulan lalu.
Berdasar negara asal, impor nonmigas Indonesia didominasi dari China, Jepang, dan Thailand dengan total pangsa 52,21% dari total impor nonmigas bulan Maret 2025.
Selain itu, beberapa negara asal impor nonmigas dengan kenaikan tertinggi, di antaranya adalah Pantai Gading yang naik 357,70%, Afrika Selatan 206,68%, Swedia 76,13%, Prancis 68,29%, dan Inggris 40,35%.
Secara kumulatif untuk periode bulan Januari hingga bulan Maret 2025, total impor mencapai US$55,71 miliar, atau naik 1,47%. Peningkatan impor ini dipicu impor nonmigas yang naik sebesar 2,91%, namun impor migas turun sebesar 5,85%.
