Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur melaporkan bahwa nilai impor provinsi ini pada tahun 2024 mengalami peningkatan, mencapai total 30,42 miliar dolar AS atau naik 3,66% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa kenaikan impor terutama disumbang oleh dua sektor utama: impor minyak dan gas yang naik 18,19%, serta impor nonmigas yang mengalami kenaikan tipis sebesar 0,09%. Ia menambahkan, meskipun impor bertambah, laju pertumbuhan ekspor jauh lebih tinggi sehingga surplus perdagangan luar negeri Jawa Timur tetap membaik.
Terdapat sepuluh negara yang masih menjadi mitra utama impor Jawa Timur, yaitu Tiongkok, Singapura, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Brasil, India, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Jepang. Pada 2024, nilai impor dari sepuluh negara tersebut mencapai 21,17 miliar dolar AS atau 69,59% dari total impor, naik 8,43% dibandingkan 19,52 miliar dolar AS pada 2023.
Dari sepuluh mitra tersebut, Uni Emirat Arab mencatat pertumbuhan tertinggi dengan peningkatan sebesar 27,85% atau sekitar 188,13 juta dolar AS. Sementara itu, Tiongkok tetap menjadi pemasok terbesar dengan total 8,29 miliar dolar AS, naik 18,12% dibandingkan tahun sebelumnya. Komoditas utama yang diimpor dari Tiongkok antara lain bawang putih (376,94 juta dolar AS), anggur segar (276,96 juta dolar AS), dan apel segar (245,87 juta dolar AS). Tiga komoditas ini menyumbang lebih dari 10% dari total impor Jawa Timur dari Tiongkok.
Sebaliknya, impor dari Malaysia dan India justru menurun. Impor dari India berkurang 258,59 juta dolar AS, sementara dari Malaysia turun 169,57 juta dolar AS. Penurunan ini terutama terjadi pada kelompok bahan bakar mineral (HS 27), khususnya bensin tanpa timbal dengan kadar oktan di atas RON 90 tetapi di bawah RON 97. Dari India, impor jenis ini turun sebesar 51,40% atau sekitar 277,33 juta dolar AS, sedangkan dari Malaysia menurun 27,59% atau sekitar 232,37 juta dolar AS.
