Pasar saham global menguat pada perdagangan hari Senin tanggal 8 Mei 2024, didorong oleh tercapainya kesepakatan dagang sementara antara Amerika Serikat dan China. Kedua negara sepakat menurunkan tarif impor dalam upaya meredakan ketegangan yang selama ini membayangi stabilitas ekonomi dunia.
Kesepakatan tersebut tercapai setelah pertemuan bilateral di Jenewa pada akhir pekan. Dalam pertemuan itu, pemerintah AS setuju menurunkan tarif atas produk China dari 145 persen menjadi 30 persen.
Sebagai balasan, China memangkas bea masuk atas produk-produk AS dari 125 persen menjadi 10 persen. Kesepakatan ini berkalu selama masa negoisasi selama 90 hari ke depan.
Menanggapi kabar ini, indeks saham utama di AS langsung menguat signifikan. Indeks S&P 500 melonjak 3,3 persen, sementara Nasdaq, yang didominasi saham teknologi melesat 4,4 persen.
Di bursa Eropa, indeks STOXX 600 naik 1,2 persen. Sementara itu, bursa Hong Kong juga menunjukkan penguatan signifikan, dengan indeks Hang Seng ditutup naik hampir 3 persen.
“Ini pemulihan alami setelah pasar sempat terpuruk,” kata Gina Bolvin, Presiden Bolvin Wealth Management Group di Boston.
Ia menambahkan, “Pasar sedang menguji batas atas. Kalau berhasil menembus, ini akan jadi kemenangan besar buat Trump, buat bursa dan buat investor.”
Seiring menguatnya pasar saham, sejumlah asset safe haven atau pelindung nilai justru mengalami tekanan. Nilai tukar yen Jepang turun 2,1 persen menjadi 148,39 per dollar AS, atau sekitar Rp. 2.451 per yen.
Franc Swiss juga ikut melemah 1,8 persen. Sementara itu, indeks dollar AS naik 1,17 persen, mencerminkan penguatan mata uang tersebut terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Harga emas spot turun tajam 2,7 persen ke lebel 3.234,8 dollar AS per ons atau sekitar Rp. 53,4 juta. Ini jau dari rekor tertinggi bulan lalu yang sempat menyentuh 3.500 dollar AS per ons.
Harga emas melemah seiring berkurangnya kekhawatiran investor terhadap risiko ekonomi.
Euro juga ikut tertekan, melemah 1,4 persen menjadi 1,1090 dollar AS atau sekitar Rp. 18.320, setelah sebelumnya sempat menguat akibat keraguan terhadap dominasi dollar AS sebagai mata uang cadangan global.
Dalam pernyataan Bersama, Washington dan Beijing menyebut bahwa hubungan dagang kedua negara merupakan komponen penting bagi stabilitas ekonomi global. Nada optimis dalam pernyataan tersebut turut mendorong kepercayaan investor.
Kit Juckes, Kepala Strategi Valuta Asing di Societe Generale, menilai kesepakanan penurunan tarif ini sebagai “kelegaan besar bagi kedua negara.”
Di sisi lain, investor juga mulai menghitung ulang risiko resesi ekonomi dunia. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan depan naik hampir 1,9 persen ke posisi 65,10 dollar AS per barel, atau sekitar Rp. 1,07 juta. Sepekan sebelumnya, harga Brent masih berada di kisaran 57 dollar AS.
