Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkap penerimaan bea masuk pada bulan April 2025 mengalami penurunan 1,9% (YoY) dipengaruhi oleh turunnya impor pangan seperti beras, jagung, dan gula.
Kemenkeu mencatat realisasi bea masuk hanya mencapai Rp. 15,4 triliun atau 29,2% dari target APBN atau turun 1,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kendati begitu, penurunan ini dinilai menjadi sinyal positif atas keberhasilan swasembada pangan.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Anggito Abimanyu, mengatakan nihilnya impor tiga komoditas, yaitu beras, jagung, dan gula menunjukkan ketahanan pasokan dalam negeri.
“Penurunan penerimaan bea masuk bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Penurunan terjadi karena tidak ada impor beras, jagung dan gula. Jadi wajar tidak ada penerimaan bea masuk dari sana, tapi ini hal yang positif,” kata Anggito.
Beliau menyampaikan, bahwa juka ketifa komoditas ini dikecualikan, penerimaan bea masuk justru tumbuh positif secara tahunan, yakni sebesar 4,3%.
Tidak hanya itu, kontribusi sector pertanian juga terlihat dari penerimaan bea keluar. Kemenkeu mencatat, penerimaan bea keluar naik signifikan 95,9% menjadi Rp. 11,3 triliun.
Capaian positif itu salah satunay di dorong oleh kenaikan harga minyak kelapa sawit, memperkuat kontribusi pertanian tidak hanya pada ketahanan pangan, tetapi juga pada pendapatan negara.
Adapun, keberhasilan ini tentu tidak lepas dari strategi nasional di sector pertanian, seperti peningkatan produksi dalam negeri, efisiensi distribusi, dan dukungan langsung kepada petani.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, stok cadangan beras yang dikuasai Perum Bulog telah mencapai 3,9 juta ton per 24 Mei 2025.
Merujuk Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras pada Januari-Juni 2025 diperkirakan mencapai 18,76 juta ton. Angka tersebut naik 11,17% disbanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, luas panen jagung pipilan diperkirakan mencapai 1,42 juta hectare, atau naik 11,64% dari tahun sebelumnya. Total produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28% pun diprediksi melonjak menjadi 10,91 juta ton, atau naik 12,88% dari 9,67 juta ton apda Januari-Juni 2024.
