Kinerja perdagangan luar negeri Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan hasil positif pada Agustus 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat nilai ekspor mencapai US$1,83 miliar, naik 7,42% dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, impor turun tajam 16,98% menjadi US$310,45 juta.

Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana menyebut ekspor nonmigas naik 8,60% menjadi US$1,65 miliar, menutupi penurunan ekspor migas yang turun 2,61% menjadi US$174,72 juta. Meski demikian, secara tahunan ekspor Kaltim masih melemah 10,70%, dan secara kumulatif Januari–Agustus 2025 tercatat US$13,56 miliar, turun 16,43% dari periode sama tahun lalu.

Komoditas bahan bakar mineral menjadi penyumbang utama ekspor nonmigas dengan nilai US$163,93 juta atau 76,63% dari total. Sebaliknya, ekspor produk kimia turun 42,53%. Dari sisi tujuan, Tiongkok tetap menjadi pasar terbesar dengan porsi 31,77%, disusul India (16,70%) dan Filipina (8,93%).

Impor migas tercatat US$234,34 juta, turun 14,13%, sedangkan impor nonmigas merosot 24,67% menjadi US$76,11 juta. Penurunan terbesar terjadi pada impor kapal dan mesin, sementara kelompok pupuk justru naik 30,71%.

Penurunan impor ini mendorong surplus perdagangan Kaltim mencapai US$1,52 miliar pada Agustus 2025, dengan sektor nonmigas menyumbang US$1,58 miliar. Secara kumulatif, surplus perdagangan Kaltim Januari–Agustus 2025 tercatat US$10,48 miliar.

Pelabuhan Balikpapan menjadi pintu ekspor utama dengan nilai US$501,98 juta, disusul Samarinda dan Bonthan Bay. Untuk impor, Balikpapan juga mendominasi dengan kontribusi 74,74% dari total nilai impor provinsi ini.