Uni Eropa (UE) terus menekan pembicaraan dagang dengan Amerika Serikat (AS) menjelang batas waktu penerapan tarif impor hingga 50% yang dijadwalkan berlaku mulai 9 Juli 2025.
Komisioner Ekonomi UE Valdis Dombrovskis mengungkapkan bahwa dialog intensif dengan pihak AS masih berlangsung dan menunjukkan sejumlah kemajuan signifikan.
“Prefensi kami adalah menemukan solusi yang dapat diterima Bersama dan emredam ketegangan dagang ini “ ujarnya.
Kendati demikian, Dombrovskis menegaskan bahwa Brussels tak akan tinggal diam juka kesepakatan tak kunjung tercapai.
“UE siap bertindak tegas demi melindungi kepentingan ekonomi dan pelaku usahanya apabila tidak ditemukan solusi yang memadai,” tegasnya.
Ketika dimintai tanggapan soal usulan tarif dasar 10% dari mantan Presiden Donald Trump, Dombrosvkis menyatakan bahwa langkah tersebut masih bersifat spekulatif dan belum mencerminkan kondisi perundingan saat ini.
Jika tenggat 9 Juli benar-benar diberlakukan, hampir seluruh eksporo Uni Eropa ke AS terancam tarif 50%. Sebuah lonjakan yang dapat memicu ketegangan dagang lintas Atlantik.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengindikasikan bawa kesepakatan dagang dengan UE mungkin menjadi salah satu yang terakhir diselesaikan oleh pemerintahan saat ini.
Sebagai respons terhadap ekbijakan tarif baja dan aluminium era Trump, Uni Eropa telah menyetujui pengenaan tarif balasan atas produk AS senilai sekitar US$24,1 miliar.
Beberapa produk yang masuk dalam daftar balasan termasuk kedelai dari Louisiana-basis pemilihan Ketua DPR AS Mike Johnson-selain juga produk pertanian, unggas dan sepeda motor.
Brussels juga menyiapkan daftar tambahan tarif atas produk AS senilai €95 miliar sebagai antisipasi terhadap potensi penerapan tarig timbal balik dan bea masuk kendaraan bermotor dari pemerintahan Trump.
Barang-barang yang disasar meliputi pesawat buatan Boeing, mobil buatan AS, hingga minuman bourbon khas Amerika.
